Pages

Minggu, 20 Januari 2013

Shania Twain Untukmu

YOU’RE  STILL THE ONE

(spoken)When I first saw you, I saw love.
And the first time you touched me, I felt love
And after all this time, you're still the one I love.

Looks like we made it
Look how far we've come my baby
We might a took the long way
We knew we'd get there someday
They said, "I bet they'll never make it"
But just look at us holding on
We're still together still going strong

(You're still the one)You're still the one I run to
The one that I belong to
You're still the one I want for life
(You're still the one)You're still the one that I love
The only one I dream of
You're still the one I kiss good night

Ain't nothin' better
We beat the odds together
I'm glad we didn't listen
Look at what we would be missing
They said, "I bet they'll never make it"
But just look at us holding on
We're still together still going strong

(You're still the one)You're still the one I run to
The one that I belong to
You're still the one I want for life
(You're still the one)You're still the one that I love
The only one I dream of
You're still the one I kiss good night

(You're still the one)You're still the one I run to
The one that I belong to
You're still the one I want for life
(You're still the one)You're still the one that I love
The only one I dream of
You're still the one I kiss good night

Looks like we made it
Look how far we've come my baby

                Diiringi lagu dari Shania Twain. Aku diam, kaku, mematung. Namun fikiran melayang dan membumbung jauh kearah timur tempatku berada. Melewati atap-atap rumah warga, melewati kebun-kebun tomat-kol-kacang hingga kebun cengkeh, melewati hutan cemara di atas pegungungan, pohon-pohon lebat yang begitu hijau melesat cepat ke arah laut. Lurus ke timur melewati hamparan samudera, melewati pulau-pulau kecil hingga tiba di tepi pulau terbesar negeriku. Maju melewati gunung hutan atap-atap rumah perkebunan dan tiba di suatu perkampungan. Membayangkan situasi pedesaan tersebut yang begitu terpencil, jauh dari keramaian, dikelilingi kebun, hutan, dan bukit, tanpa listrik serta sinyal. Membayangkan sebuah rumah kecil yang dihuni tiga orang pemuda, yang dengan sengaja mengabdikan dirinya demi kemajuan negeri, membina generasi. Membayangkan suatu sosok yang tak asing tubuhnya di pandanganku, tak asing suaranya di pendengaranku, tak asing baunya di penciumanku. Sosok yang mengisi hari-hariku selama setahun terakhir.
                Rindu. Perasaan yang tiba-tiba muncul demi mendengarkan alunan lagu ini. Terpampang jelas tayangan layar lebar rajutan cerita suka duka aku dan dirinya. Makan di warung lalapan khusyu’ makan dengan memasang telinga mendengarkan cerita kehidupan masing-masing, Makan terhenti ketika ada pertanyaan yang serius. Tangan terhenti menyuap untuk menjawab pertanyaan. Tawa pecah di saat piring di hadapan telah bersih dari nasi, dan talanan di sampingnya telah penuh dengan tulang ayam, sisa-sisa sambal, dan beberapa dedaunan cemangi yang masih bersama tangkainya. Hampir tak ada duka saat bersamanya, kepandaiannya dalam menyenangkan suasana sangat aku nikmati. Dan kini, aku rindukan.
                Shania Twain masih setia berdendang untukku. Mengiringi bayangannya yang tak bisa lepas dari imajinasiku. Kini aku membayangkan dirinya dalam temaram pelita saat gelap pekat membungkus langit. Apa yang dia kerjakan?. Malam yang selama ini aku yakini dia hiasi dengan online, lalu malam di pedesaan?. Aku hanya bisa menerka, dia mengaji atau membaca ketika maghrib berlalu, dan bercerita bertiga dengan temannya di teras lepas isya dan makan malam. Tidur sebelum jarum panjang waktu berada di angka Sembilan atau sepuluh.
                Pagi yang cerah nan indah sempurna terbentuk di imajinasiku. Lagu You’re Still the One ini membuat imajinasiku semakin nyata. Aku mendapati dirinya telah rapi dengan tas ransel di punggung melangkah menuju sekolah tempat dia membagi ilmu yang berjarak dua kilometer. Ah, aku lupa jarak yang pernah dia sebutkan. Menemui sosok-sosok berambut keriting berkulit cokelat gelap berbadan seratusan empat puluh meter dengan seragam putih biru yang tersenyum senang menemuinya. Bersama-sama menikmati pagi yang memberikan semangat saling memberi dan mengambil ilmu.
                Ya. Dia telah tiga bulan meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya menuju pulau paling timur negeriku. Mengikuti suatu program mengajar anak-anak di daerah terluar-terpencil-terdepan, yang diadakan oleh suatu lembaga yang dipanjang tangankan ke 17 universitas di negeri ini. Dan satu universitas diantaranya adalah di kotaku. Dia nekat berlayar jauh meninggalkan kenyamanan bersama orang tua, makan enak dan teratur, tertawa riang gembira bersama teman-teman sebaya, ataupun terbahak-bahak di depan komputer bersama teman online, juga meninggalkan enaknya hidup bersama listrik dan sinyal. Meninggalkan segalanya demi satu tujuan mulia, “Mencerdaskan Anak Bangsa”.
                You're still the one that I love
The only one I dream of
You're still the one I kiss good night

Liriknya begitu menyentuhku. Membubungkan batinku padanya. Seakan secepatnya ingin menperdengarkan lirik ini di telinganya. Dia sosok yang tak suka dirayu, walau kutahu itu akan tetap kuperdengarkan. Dia harus tahu jika aku akan selalu menempatkan namanya di hatiku. Dia harus tahu bahwa jejak-jejak bersamanya selama ini, tak mampu aku hapus. Jejak itu layaknya menginjak semen yang sangat sulit untuk menghilangkannya. Ya, dia harus tahu.