YOU’RE STILL THE ONE
(spoken)When I first saw you, I
saw love.
And the first time you touched
me, I felt love
And after all this time, you're
still the one I love.
Looks like we made it
Look how far we've come my baby
We might a took the long way
We knew we'd get there someday
They said, "I bet they'll never make it"
They said, "I bet they'll never make it"
But just look at us holding on
We're still together still going
strong
(You're still the one)You're
still the one I run to
The one that I belong to
You're still the one I want for
life
(You're still the one)You're
still the one that I love
The only one I dream of
You're still the one I kiss good
night
Ain't nothin' better
We beat the odds together
I'm glad we didn't listen
Look at what we would be missing
They said, "I bet they'll never make it"
They said, "I bet they'll never make it"
But just look at us holding on
We're still together still going
strong
(You're still the one)You're
still the one I run to
The one that I belong to
You're still the one I want for
life
(You're still the one)You're
still the one that I love
The only one I dream of
You're still the one I kiss good
night
(You're still the one)You're still the one I run to
The one that I belong to
You're still the one I want for life
(You're still the one)You're still the
one that I love
The only one I dream of
You're still the one I kiss good
night
Looks like we made it
Look how far we've come my baby
Diiringi
lagu dari Shania Twain. Aku diam, kaku, mematung. Namun fikiran melayang dan
membumbung jauh kearah timur tempatku berada. Melewati atap-atap rumah warga,
melewati kebun-kebun tomat-kol-kacang hingga kebun cengkeh, melewati hutan
cemara di atas pegungungan, pohon-pohon lebat yang begitu hijau melesat cepat ke
arah laut. Lurus ke timur melewati hamparan samudera, melewati pulau-pulau
kecil hingga tiba di tepi pulau terbesar negeriku. Maju melewati gunung hutan
atap-atap rumah perkebunan dan tiba di suatu perkampungan. Membayangkan situasi
pedesaan tersebut yang begitu terpencil, jauh dari keramaian, dikelilingi
kebun, hutan, dan bukit, tanpa listrik serta sinyal. Membayangkan sebuah rumah
kecil yang dihuni tiga orang pemuda, yang dengan sengaja mengabdikan dirinya
demi kemajuan negeri, membina generasi. Membayangkan suatu sosok yang tak asing
tubuhnya di pandanganku, tak asing suaranya di pendengaranku, tak asing baunya
di penciumanku. Sosok yang mengisi hari-hariku selama setahun terakhir.
Rindu.
Perasaan yang tiba-tiba muncul demi mendengarkan alunan lagu ini. Terpampang jelas
tayangan layar lebar rajutan cerita suka duka aku dan dirinya. Makan di warung
lalapan khusyu’ makan dengan memasang telinga mendengarkan cerita kehidupan
masing-masing, Makan terhenti ketika ada pertanyaan yang serius. Tangan terhenti
menyuap untuk menjawab pertanyaan. Tawa pecah di saat piring di hadapan telah
bersih dari nasi, dan talanan di sampingnya telah penuh dengan tulang ayam,
sisa-sisa sambal, dan beberapa dedaunan cemangi yang masih bersama tangkainya. Hampir
tak ada duka saat bersamanya, kepandaiannya dalam menyenangkan suasana sangat aku
nikmati. Dan kini, aku rindukan.
Shania
Twain masih setia berdendang untukku. Mengiringi bayangannya yang tak bisa
lepas dari imajinasiku. Kini aku membayangkan dirinya dalam temaram pelita saat
gelap pekat membungkus langit. Apa yang dia kerjakan?. Malam yang selama ini
aku yakini dia hiasi dengan online, lalu malam di pedesaan?. Aku hanya bisa
menerka, dia mengaji atau membaca ketika maghrib berlalu, dan bercerita bertiga
dengan temannya di teras lepas isya dan makan malam. Tidur sebelum jarum
panjang waktu berada di angka Sembilan atau sepuluh.
Pagi
yang cerah nan indah sempurna terbentuk di imajinasiku. Lagu You’re Still the
One ini membuat imajinasiku semakin nyata. Aku mendapati dirinya telah rapi
dengan tas ransel di punggung melangkah menuju sekolah tempat dia membagi ilmu
yang berjarak dua kilometer. Ah, aku lupa jarak yang pernah dia sebutkan. Menemui
sosok-sosok berambut keriting berkulit cokelat gelap berbadan seratusan empat
puluh meter dengan seragam putih biru yang tersenyum senang menemuinya. Bersama-sama
menikmati pagi yang memberikan semangat saling memberi dan mengambil ilmu.
Ya.
Dia telah tiga bulan meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya menuju pulau
paling timur negeriku. Mengikuti suatu program mengajar anak-anak di daerah
terluar-terpencil-terdepan, yang diadakan oleh suatu lembaga yang dipanjang
tangankan ke 17 universitas di negeri ini. Dan satu universitas diantaranya
adalah di kotaku. Dia nekat berlayar jauh meninggalkan kenyamanan bersama orang
tua, makan enak dan teratur, tertawa riang gembira bersama teman-teman sebaya,
ataupun terbahak-bahak di depan komputer bersama teman online, juga meninggalkan
enaknya hidup bersama listrik dan sinyal. Meninggalkan segalanya demi satu
tujuan mulia, “Mencerdaskan Anak Bangsa”.
You're still the one
that I love
The only one I dream of
You're still the one I kiss good night
Liriknya begitu
menyentuhku. Membubungkan batinku padanya. Seakan secepatnya ingin
menperdengarkan lirik ini di telinganya. Dia sosok yang tak suka dirayu, walau
kutahu itu akan tetap kuperdengarkan. Dia harus tahu jika aku akan selalu
menempatkan namanya di hatiku. Dia harus tahu bahwa jejak-jejak bersamanya
selama ini, tak mampu aku hapus. Jejak itu layaknya menginjak semen yang sangat
sulit untuk menghilangkannya. Ya, dia harus tahu.
